Tugas 8 fania azura: Masalah dalam kelas dan upaya pemecahannya
A. Latar Belakang Masalah pada Manajemen Kelas
Suasana
sekolah pada umumnya dan suasana kelas pada khususnya merupakan modal penting
bagi jernihnya pikiran untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan
suatu keadaaan yang menyenangkan demi meningkatkan motivasi siswa untuk
mengikuti kegiatan pelajaran, untuk mengatasinya dibutuhkan manajemen kelas
yaitu penanganan yang baik agar dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan
dengan lancar dan tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kelas merupakan
suatu tempat anak belajar untuk mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman
serta pembentukan pribadi yang baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di
sekolah diharapkan harus intens untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas terdiri
dari siswa yang dapat ditinjau dari cara belajar mereka, karakter siswa,
hubungan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar mengajar.
Guru
sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu mengelola kelas
karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari
lingkungan sekolah yang perlu di organisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi
agar kegiatan - kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Salah
satu manajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk
sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya kepada 2 guru sehingga mereka
mampu membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer, guru hendaknya mampu
memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal.
Menurut Popi Sopiatin (2010: 48). Ada beberapa hal yang harus mendapatkan
perhatian dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif adalah sebagai
berikut: 1.Memulai pelajaran tepat waktu 2.Menata Tempat duduk yang tepat
dengan cara menyelaraskan antara format dan jam pelajaran 3.Mengatasi gangguan
dari luar 4.Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat di laksanakan
dengan konsisten 5.Peralihan yang mulus antar segmen pelajaran 6.Siswa yang
berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung 7.Pemberian pekerjaan
rumah 8.Mempertahankan momentum selama pelajaran 9.Downtime, kelebihan waktu
yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas - tugas dalam proses belajar
mengajar. 10.Mengakhiri pelajaran Suasana kelas yang kondusif dapat
menghasilkan pembelajaran yang sebaik mungkin. Hasil belajar yang baik akan
membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan motivasi belajar yang baik
mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan baik, selain itu dapat
mengembangkan 3 inisiatif (belajar sendiri). Mengajar merupakan suatu perbuatan
yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Dalam upaya menciptakan
manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari bagaimana seorang guru
mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, tidak dapat di pungkiri
bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan kecerdasan siswa yang
berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan tersebut maka akan
berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas. Manajemen kelas bukanlah
masalah yang berdiri sendiri namun terkait dengan beberapa faktor. Permasalahan
siswa merupakan masalah yang terkait langsung. Dalam hal ini, karena manajemen
kelas yang dilakukan guru tidak lain untuk meningkatkan semangat belajar siswa.
Keakraban guru dengan siswa, tingginya kerja sama tercipta dalam bentuk
interaksi. Adanya interaksi itu tentu saja bergantung pada pendekatan yang
dilakukan oleh guru terhadap siswanya. Pendekatan bisa dilakukan dengan
berbagai cara yaitu memberikan perhatian, ancaman maupun kebebasan dll. Hal itu
bisa dilakukan selama pelajaran berlangsung agar kondisi kelas yang tenang
dapat diciptakan. Selain pendekatan yang harus dilakukan oleh guru dalam
menjaga kondisi kelas agar tetap optimal juga diperlukan adanya ketrampilan-keterampilan
dalam mengelolanya dan prinsip-prinsip manajemen yang harus dipahami oleh
setiap guru yang bersangkutan. Kemampuan dalam mengelola perilaku siswa
merupakan kemampuan yang sangat penting untuk 4 dimiliki oleh seorang guru
karena terdapat hubungan yang erat antara prestasi belajar siswa dengan
perilakunya di sekolah prestasi yang rendah sering menimbulkan perilaku buruk
karena siswa merasa kecewa dengan sekolahnya. Proses belajar mengajar erat
sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana dimana proses itu berlangsung.
Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya
belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh iklim kelas masih sangat penting.
Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan
kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka
atau bahkan malah menganggu mereka. Lingkungan fisik kelas sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan pembelajaran. Lingkungan kelas yang kondusif, nyaman,
menyenangkan, dan bersih berperan penting dalam menunjang keefektifan belajar.
Lingkungan juga akan mempengaruhi mental siswa secara psikologis dalam menerima
informasi dari guru di dalam kelas. Bahkan, dengan menggunakan strategi dan
metode tertentu siswa dapat menerima stimulus dengan memanfaatkan lingkungan
sekitar kelas untuk membantu siswa mengejar prestasinya. Banyak hal yang dapat
dilakukan dalam sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan kepada siswa,
penyusunan meja dan kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima akses
informasi dengan baik dan merata, memberikan aroma tertentu yang membangkitkan
semangat dan 5 motivasi, menata bunga dan berbagai tumbuhan yang akan
memberikan kesegaran, memilih warna cat dinding yang sesuai dengan kebutuhan
untuk sebuah ruang kelas, memasang poster-poster yang berisikan kalimat-kalimat
afirmasi yang memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi seseorang yang
berprestasi di kelasnya. Beberapa hal pengaruh lingkungan fisik kelas terhadap
hasil belajar yaitu (1) pengaturan ruangan, kursi dan meja, (2) pemasangan
poster ikon, (3) pemasangan poster afirmasi (4) pemberian dan penataan bunga di
kelas. (Darmasyah, 2010: 34). Lingkungan kelas memberikan dampak yang cukup
baik terhadap hasil belajar. Karena itu, faktor-faktor yang mendukung
terciptanya kondisi fisik yang kondusif terhadap pelaksanaan pembelajaran perlu
mendapat perhatian serius, terutama bagi para guru yang terlibat langsung.
B. Kebijakan
Penanganan Masalah Dalam Kelas
Belajar adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi di dalam
lingkungan belajar. Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan formal dan
non formal. Salah satu lembaga pendidikan formal yg umum di indonesia yaitu
sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang
melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan belajar mengajar tersebut
terjadi di dalam kelas. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau
memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai
dengan kecerdasan intelektual.
Kegiatan
guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas.
Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai
tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana
pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan
kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar.
Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana
(kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan
efisien.
Guru-guru
harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara
tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran
dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat
penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi
lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak
senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh
kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat
pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima
atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan
Untuk
dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1.
Mengenali secara tepat berbagai
jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompo
2.
Memahami pendekatan mana yang cocok
dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3.
Memilih dan menetapkan pendekatan
yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
C. macam
macam permasalahn dalam manajemen kelas
Ada dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan
atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan
atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar
dipisahkan yang satu dari yang lain.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1)
Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa
tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu
memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika
seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka
dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku,
yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut
balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan
makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian
orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a)
Attention getting behaviors (pola
perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana
hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif)
bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari
perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer,
melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus
bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian
yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus
meminta bantuan orang lain.
b)
Power seeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif,
tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong,
menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang
diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka.
Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan
kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat
pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c)
Revenge seeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak
menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang
lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang)
terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering
dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau
dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam
pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d)
Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak
mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang
bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan
tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan
ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2)
Masalah Kelompok :
Dikenal
adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
- Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan
(konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori
kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak
kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan
dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan
kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang
mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
- Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi
aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul,
yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini
ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa
diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu
semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing;
dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
- Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang
bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima
oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau
anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap
“menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan
kelompok.
- Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku
yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi
apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang
bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang
amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat
gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah
kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok
kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
- Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang
dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau
hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam
kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan
terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal
kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering
terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru
tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan
kekhawatiran.
- Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan
tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan
protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka
maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu
tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu
tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu,
dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada
umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan
penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
- Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila
kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau
perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan,
pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan
lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok)
sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan
yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling
sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru
pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
D. Solusi dalam mengatasi masalah manajemen
kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di
atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a. Behavior –
Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari
penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu
merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas
dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina
perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku
negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya
dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan
menimbulkan masalah baru.
b. Pendekatan
Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban
suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku
siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban
atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.
Perintah dan larangan
2.
Penekanan dan penguasaan
3.
Penghukuman dan pengancaman
4.
Pendekatan perintah dan larangan
c.
Pendekatan Permisif
Pendekatan
yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar
yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga
bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik.
Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak
menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya
yaitu sebagai berikut:
1.
Tindakan pendekatan pengalihan merupakan
tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal
yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.
Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan
apa-apa sama sekalI
3.
Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.
Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui
prosedur yang sebenarnya.
5.
Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan
oleh orang lain.
6.
Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang
anggota
d.
Pendekatan
membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali
lagi pengajar memandang peserta didik
telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka
bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola
kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja
sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu
habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja
peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi
peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas,
telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah
dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua
pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap
serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan
peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
Untuk dapat
menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
- Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah
pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
- Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak
cocok untuk jenis masalah tertentu.
- Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling
tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Daftar
Pustaka
Arikunto dalam Sulistyorini, 2006. Manajemen Pendidikan Islam . (Surabaya:eLKAF,)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak
Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
H.Syafruddin nurdin, Adriantoni. 2019 .Profesi Keguruan. PT Raja. Depok: Rajawali pers.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi.
Materinya bagus kak
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan dilapangan nantinya๐
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat, terimakasih
BalasHapusmudah dipahami materinya
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusMantap materinya..tidak ada duanya๐๐๐๐
BalasHapus